Selasa, 19 November 2019

#contoh teks #contohanekdot

Judul.          : KISAH SUKSES PENGAMEN
Pengarang : Adam Fadli Prasetya
Kelas.          : XAP 1

Seorang pengamen sedang berbincang bincang dengan seseorang.
Lelaki.         : Mas...luar biasa nih..ngamen.
                       Suaranya dong bagusin lagi.
                       He he..
Pengamen  : Ya...beginilah mas...namanya
                        juga cari nafkah
Lelaki.         : Emangnya penghasilan mas
                        berapa sehari-hari?
Pengamen. : Yah...nggak tentu mas. Kalo
                        lagi rame 15 sampai 30 ribu.
                        Kalo sepi..malah 10 sampai 15
                        jutaan.
Lelaki.          : Lho kok bisa begitu...
Pengamen.  : Iya mas. Kalo lagi sepi kan
                         bisa sambil nyolong motor...
Lelaki.          : Ha....(Tertegun)

Contoh teks anekdot

Mengkoversi teks anekdot dari contoh teks yang disediakan

Judul : Mati Gaya
Karya : Diajeung Suci Rahayu
Kelas : X Ak 1

Ada seseorang yang bertemu dengan temannya di sebuah mall ternama di Jakarta. Terjadilah dialog berikut.
Melita : Eh... Ajeng...lama nggak ketemu.Gimana kabarnya?
Ajeng : Eh...Melita.Baik kabarnya. Btw loe ngapain disini?
Melita : Gue belanja, Jeng. Loe sendiri?
Ajeng : Gue baru beli make up di Sephora. Beli Skincare.Beli baju di Gucci. Beli sepatu Nike. Terakhir gue ke h&m beli underware.
Melita : Oalah
... Belanjaan loe branded semua. Eh...loe juga bawa brosur mobil kayak gue.Mo beli mobil juga?
Ajeng : Iya nih. Gue mau ke atm transfer uangnya.
Melita : Gila...si Ajeng udah gaya banget sekarang. Blanjaannya banyak...punya mobil.Ntar kalo ketemuan udah nggak ngojek lagi dong...
Ajeng : Banyak sih banyak...branded sih branded tapi itu bukan punya gue...Mel...
Melita : Maksud loe?
Ajeng : Itu blanjaan n mobil majikan gue...
Melita : oooooh.... loe.. [Sambil menutup mulutnya karena kaget]


Sabtu, 9 November 2019

#tulisankeren#unik#

Kontemplasi Sayur Lodeh
Sepanjang 18 tahun sebelum masa perguruan tinggi dan aku kos. Di meja makan hampir setiap hari ada sebuah sayur yang sangat familier di lidahku. Hanya berganti jenis sayuran dengan bumbu yang sama. Sayur lodeh. Lodeh jawa timuran yang identik dengan aneka macam sayuran. Rasa kuahnya sama persis. Hanya dengan bawang putih, bawang merah, cabe rawit yang diulek usai di sauté /tumis.  Lalu ditambahkan santan kental untuk menggurihkan rasanya.
          Sayur lodeh menjadi isi perutku selama 18 tahun dan seterusnya. Sampai aku hafal sekali memasaknya. Mungkin kalau ada festival sayur lodeh dengan cita rasa jawa timur aku pede jadi juri. Kenapa sayur lodeh?
Ada filosofi dibalik sayur bersantan itu.
1.    Tanpa lauk pun sayurnya sudah gurih.
2.    Bisa diangetin sampai kapanpun bahkan sampai kering kerontang. (Makin lama sayur lodeh diangetin makin enak menurutku).
3.    Hanya bermodal sedikit tapi sudah lengkap.
4.    Panci yang dipakai masak lebih enak panci yang jelek atau yang sudah sering dipakai (Semakin tua semakin berisi/bijaksana)
Itu filosofi sayur lodeh setelah ku teliti selama bertahun-tahun. Nggak perlu ada latar belakang, rumusan masalah, masalahnya sudah jelas. Ekonomi. Alias ngirit.
          Sayur lodeh menjadi saksi kehidupanku selama 18 tahun. Sudah pasti sayur itu menjadi sayur wajib yang sangat ku sukai. Mungkin seandainya disuruh memilih diantara makanan yang beraneka ragam di dalam sajian buffet aku akan memilih sayur kesuakaanku. Lodeh. Kenapa? Karena menurutku rasa sayur lodeh sudah mendarah daging di lidahku. Alias pasti rasanya aku suka. Kecuali nggak ada sayur itu. Baru aku akan memilih yang lain.
Persetan dengan kata 'kolesterol'. Menurut saya kolesterol tidak akan ada dalam tubuh hanya dengan 3 centong kuah bersantan. santan itu kan nabati. Obat kolesterol adalah berfikir rileks dan gaya hidup wajar. He he... Pendapat tentang kesehatan pada sayur lodeh bisa disanggah oleh Almarhum kakek saya dan buyut saya yang meninggal di usia lebih dari 80 tahun tanpa menderita sakit yang kronis. Hanya karena sudah tua. itupun terjadi di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sekitarnya yang nyatanya orang-orang di sana rajin mengkonsumsi sayur bersantan, tapi hidupnya wajar-wajar saja. Itu pilihan Anda lah.. jangan terlalu percaya dengan saya.
          Sayur lodeh yang dibuat nenekku telah mengalami revolusi ketika aku yang memasaknya. Aku berinovasi dengan kemiri, kunyit, ditumis dengan minyak zaitun, minyak kelapa asli, dsb. Dsb. Tapi tetap aku akan kembali pada racikan semula di tempat semula. Karena memang itulah ciri sayur lodeh. Simple dan sederhana. Seperti filosofi hidupku. Sederhana. (Ameliorasi dari miskin. He he…)
          Sayur lodeh menemaniku dari Ebtanas SD sampai PMDK dan aku diterima di kampus negeri. Dengan sayur lodeh pula imajinasiku menghasilkan karya-karya besar yang jarang ku ekspose. Kenapa tidak ku ekspose? Karena aku pelit. Cukup sekali karyaku diakui media cetak. Sekali lagi… aku pelit. Karyaku hanya boleh dibaca orang. Tapi aku selalu berjaga di garis depan untuk melindunginya dari tangan-tangan usil plagiator. Tidak. Harga diriku.
Melalui sayur lodeh pula aku bisa berfikir lebih lancar saat menulis skripsi, tesis, bahkan menulis apapun. Atau bahkan mungkin..mungkin saja melalui sayur lodeh lah suaraku bening, mengalun merdu. Curiganya, melalui sayur lodeh juga jangan-jangan urat malu ku di atas stage putus dengan sendirinya. Tidak ada kata nervous dalam hidupku ketika bicara di atas panggung. Teknik public speaking dalam retorika mungkin ditambah satu, yaitu makanlah sayur lodeh. Kalau disetujui.
Sekali lagi ini hanya kontemplasi saya. Sekadar hasil perenungan lama tentang satu hal yang sebenarnya tidak penting-penting amatlah... Tapi itulah saya. Sesuatu yang tidak penting kadang membuat inspirasi saya hadir. Itulah saya. 
Apa yang terjadi jika
1. Sayur lodeh tidak boleh menjadi menu sehari-hari lagi karena alasan tertentu;
2. Saya ada di sebuah komunitas selama bertahun-tahun yang membenci sayur lodeh ;
3. Saya harus berhenti memasak sayur lodeh karena sebuah situasi, sementara tidak ada lagi orang yang bisa memasaknya;
4. Intinya tidak ada lagi sayur lodeh di dunia ini alias sudah punah 
Yah... saya harus ganti menu. Mungkin sayur lain, meski kata saya tidak semedok dan segurih sayur lodeh saya. Sayur lodeh akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Mangkannya saya up load lah dia di blog ini supaya minimal pernah ada yang menuliskannya. Ada bukti otentik bahwa si sayur pernah ada di dunia ini. Kalaupun sayur lodeh tiba-tiba di rename pun saya yang pertama akan membuat sinonimnya. He he...
Plur 3 November 2019

Isnin, 4 November 2019


SILUET 1 JUNI
1 Juni 2002
Tiba-tiba ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya pada celana jeansnya. Lalu tangan lembutnya terulur ke arahku.
            “Dzil.”
Aku terpaku menatap tak mengerti. Mahluk apa gerangan di depanku ini. Mata kecoklatan lebar, kulit putih, tinggi semampai, hidung hampir 70 derajat. Aku masih menatapnya tak mengerti.
            “Achmad Dzil Basyari.”
Aku menerima uluran tangannya sambil ternganga di tengah keterkejutanku sendiri. Mahluk itu mengikutiku sampai kesini. Ke tempat favoritku di kampus baru ku ini. Warkop. Mana kakiku menyilang dengan bandana polos warna hitam di kepala dan ikat dari kain di tangan kanan. Mirip preman pasar yang nyasar siang-siang.
            “maksud …..nya…”
Dia tersenyum. Busyet! Sorry ngumpat saking kagetnya. Lesung pipitnya melekuk sempurna dibingkai rahang indah ala ala drama Turki. Ini mahluk apa ya? Aku masih terdiam. Sementara dia dengan santainya duduk di depan ku. Tepatnya di depan kopi hitam kentalku yang sengaja ku balik gelasnya di alasi piring kecil.
            “Bagus banget puisinya. Suer! Namamu siapa tadi?”
Aku tersenyum masam. Cowok keren berwajah Arabian itu mengikutiku untuk ngasih reward puisi yang kubaca saat di hukum acara ospek tadi. Nggak penting. Tapi aneh. Aku menurunkan kakiku dan mengikuti arah tatapannya yang tiba-tiba terasa senyap. Seolah-olah memasukkan ku ke alur cerita panjang yang akan terjadi. Wadhuh gawat! Gawat! Aku cepat-cepat menghabiskan kopiku dan tersenyum ramah padanya lalu beranjak pergi sambil membayar kopiku yang ternyata….
            “Udah di bayar, Mbak.”
Mendapat jawaban singkat medok ala Jawa Timuran dari ibu penjaga warkop. Aku menoleh pada mahluk menakjubkan itu sesaat. Disana senyumnya mengembang dan dia pun mengikutiku melangkah keluar warkop. Gagal! Niat kabur yang gagal! Sial!
            “Nama situ siapa? “
Dia malah mengikutiku jalan kea rah kos ku.
            “hei..”
Aku berhenti sejenak sambil menyerahkan kartu opspek ku yang masih tergantung di leher. Ia menatap nama yang sudah menjadi darah daging dalam diriku itu dengan saksama. Berjarak beberapa centimeter dadaku bergetar hebat. Aroma vanilla yang manis menyeruak. Aku menarik nametake ku sambil jalan buru-buru. Ia hanya tersenyum di tempatnya. Aku sempat meliriknya sekilas. Untuk apa aku melirik? Tuhan! Ini apa namanya, ya? Aku geleng-geleng kepala menyadari alur cerita hari ini.
1 Juni 2004
“ Aku gagal menulis namamu di sini.”
Ia menunjuk dadanya tepat di tengahnya. Tempat jantungnya berdetak. Detak yang dulu membuatkan ku alur cerita indah. Aku menahan butiran bening yang nyaris keluar dari pelupuk mataku. Tuhan…Engkau telah mengirimkan mahluk sempurna ini dalam hidupku. Dan kini aku akan mengembalikannya pada taqdirnya. Mungkin. Sesuai  janjiku padaMu. Bahwa aku akan membuatnya menjadi dirinya. Menjalani kebahagiaan yang seharusnya dia miliki.
            Kami berpisah di tempat yang tak asing lagi. Kursi kayu bawah pohon. Warkop yang dulu tempat favoritku telah di gusur semester yang lalu untuk dijadikan taman fakultas. Tak pernah ada tangis atau derita saat bersamanya. Saat menjalani hari ku disisinya. Aku tak boleh terluka. Sedih. Bahkan sampai menumpahkan air mata.
            “Maaf.”
Kata yang tak pernah ia inginkan untuk ku ucapkan. Kata yang seharusnya tak ku ucapkan. Ia merengkuh tanganku ku di dadanya  . Aroma  vanilla menusuk hidungku. Mengingatkanku akan manisnya  saat-saat kami dalam satu waktu. Tak ada rasa apapun selain rasa yang tak bisa kami maknai. Aku denga aksen  kecuekanku. Dia dengan aksen ramah yang tidak berlebihan. Sabar. Tak ada kata ‘tidak’ dalam kamusnya untuk ku. Tak ada kata ‘bosan’ saat bersama ku. Sementara aku dengan kecuekanku          menanti bom waktu yang terus menggeliat perlahan dalam alur cerita kami.
            “Dirgahayu. Semoga bahagia.”
Ia melepas kacamata hitamnya yang menggantung sempurna di hidungnya yang memikat seluruh penghuni kampus ini. Yang dulu membuatku bersyukur bisa menatapnya  di note book ku saat kuliah. Yang membuat seluruh wanita-wanita di kampus menatapku iri.
            “Reyn…kamu akan bahagia?”
            “ya. Pasti.”
            “Syukron.”
Aku menatapnya. Sorot bola matanya sekarang memberitahuku kalau alur cerita kami sudah tamat. Sad Ending. Untuk yang terakhir aku menatapnya dari dekat. Bye… kisahku.

1 Juni 2028
Usai meeting dengan dewan senat kampus,Sebuah memo terselip di rangkaian bunga di meja kantor.  
CAFÉ DIOR 17.00. MEJA 10
EL TSAFIQ.
Aku menatapnya sesaat. Aroma vanilla yang khas. Aku pasti bermimpi. Tapi ini bukan  dia…. Ini hari ulang tahunnya.
Astaga! 16.50. Masih berbalut blazer abu-abu dan stiletto hitam ber heels sedang membuatku berjalan cepat menuju café yang tak jauh dari kampus tempatku mengajar. Ya Allah tidak! Ini bukan dia. Bukan. Dia koma seminggu yang lalu.
“Nama saya El Tsafiq Al Katiri.”
Aku menatap sorot matanya yang kecoklatan membuatku mengingat kembali alur cerita yang pernah terjadi.  Aku meraba hidungnya yang sempurna. Lesung pipit yang melekuk indah di dekat bibirnya. Pasti dia dilahirkan oleh mahluk suci yang juga sempurna. Subhanallah. Aku mundur dari hadapannya. Kami duduk bersebrangan berbackground langit ibukota yang mulai memerah.
            “Namaku Reyna. Adrenallien Reyna.”
            “Reyna Neurilemma Innasty. Umi banyak cerita tentang Anda. Syukron. Kata umi. “
Sahutnya sambil menatapku lekat-lekat.
            “Afwan.”
Kau sudah ada dalam bingkai kebahagiaan yang tepat. Keluarga yang bahagia. Amiin.
            Kami duduk di sebuah café di tengah ibukota yang sibuk sore ini. Aku menahan segala bentuk kesedihan. Air mata. Rasa haru. Yang ku lukiskan saat ini adalah senyum. Bahagia.
            “Abi titip ini.”
Dia menyerahkan goody bag kecil. Aku mengeluarkan kotak beludru merah maroon warna kesukaanku. Nampak sebuah kertas dan pulpen hero silver. Pulpen yang dulu pernah ku buang di tempat sampah kampus karena aku gagal dapat beasiswa.
            “Abimu, sehat?”
Lelaki di depanku menatapku sambil tersenyum. Senyum duplikat yang dulu menghiasi  mimpi-mimpi malamku.
            “Insya Allah. “
Tulisan di kertas itu singkat. Tapi membuat seluruh detak jantungku berhenti untuk sepersekian detik.
JIKA KAU BAHAGIA. TERSENYUMLAH. SYUKRON.
            Sejenak kami terdiam sambil memandangi senja.  Pangeran mu yang tampan bercerita semua. Semua yang terjadi selama ini. Seperti doa-doaku. Kau tak pernah bilang ‘tidak’ untukku. Ketika kau harus bahagia, kau selalu mendoakanku bahagia. Membuat kan ku ruang untuk bahagia. Tak memberi kesempatan untuk ku bersedih. Apalagi menitikkan air mata. Aku tak boleh melukai semua yang telah kau lakukan untuk ku. Aku memang sudah bahagia. Untuk itu aku tersenyum. Pangeran tampanmu berkata
            “kalau saya tidak membawa senyuman Anda, saya tidak bisa kembali ke Abi.”
Aku mengangguk dan menerima uluran tangan pangeranmu untuk segera mengakhiri pertemuan hari itu. Sekaligus melepas senja. Ia mengucapkan satu hal yang tak bisa ku lupakan
ANDA BOLEH PERCAYA CINTA. TAPI ANDA HARUS PERCAYA JODOH DAN TAQDIR.
            Kami berpisah senja itu diiringi senyum dan saling mendoakan.
Aku kembali ke rumahku. Bersama keluargaku. Kedua buah hatiku. Dewi-dewiku yang cantik. Yang selalu kubacakan dongeng tentang putri yang berhati lembut dan bertemu seorang pangeran tampan ber hati mulia. Aku bahagia dengan taqdir dan jodohku. Semua kisah yang menjadi tonggak hidupku menjadi berwarna. Aku titip salam untuk setiap mahluk Mu yang pernah menjadi pondasi kebahagiaanku melalui skenario indah Mu. Tuhan.
Syukron.

Setiap kisah pasti punya makna.
Setiap cerita utuh pasti punya ending.
Setiap keinginan pasti diakhiri taqdir.

Plur 2016.


JIKA AKU…
Aku mencintaimu
Tak peduli bom waktu meledak seketika
Tak bergeming meski detik tak lagi berdetak
Aku mencintaimu
Tak peduli sakit atau normalku
Tinggi atau sabarku
Orgasme nafas hidupku
Ketika aku terpaku menatap celah diantara putih dan hitamnya bola matamu
Geletar jiwaku
Mengalir indah
Semerdu alunan biola
Dan hatiku
Bisa saja tiba-tiba
Tersayat ngilu
Ketika
Engkau tak lagi bisa menghantuiku
Ketika aku memilih untuk tidak lagi
Mencari back sound mengiringi jiwaku padamu
                Aku mencintaimu
                Sampai ku ingat selalu
                Tiap meeting, shoping, etc
                Aku mencintaimu tiap aku
                Mendadak demam
                Sampai aku tertawa terbahak
Aku mencintaimu
Sampai aku kenal warna baju yang kau pakai
Kenal kapan kau berhenti melangkah
Berhen ti bergerak untuk sekedar
Membetulkan sesuatu
Kenal kapan kau duduk termenung di dekat cangkir minummu
Kenal kapan kau tertidur pulas
Saat berhenti beraktivitas
Melawan mesin waktu
                Aku mencintaimu
                Sampai terkalahkan sudah batas antara sabar dan emosiku
                Sampai aku tak lagi tahu
                Kapan aku akan bergerak pergi
                Mencari hati lain lagi
                Sampai tak terpikirkan olehku
                Lulus dari almamater kerinduan ini
                Sampai aku jadi ikatan alumni kasihmu
Aku mencintaimu
Sampai aku tak sempat lagi
Menghitung struk gajiku
Kapan jadwal harianku harus ku ganti
                Aku mencintaimu
                Sampai  aku tak sadar
                Waktu pelan-pelan memotong usiaku
                Dan aku mencintai semuanya
                Termasuk hal terburuk darimu…..

Perempuan yang Membenci Gerimis


PEREMPUAN YANG MEMBENCI GERIMIS
Gerimis. Aku benci semua itu. Aku benci rintik gerimis. Tetesan rintik itu membuat semua jiwa menjadi cemas, senyap, dan langit yang menjelang gelap membuat semuanya terlihat samar-samar. Seperti siluet. Hanya sebuah bayangan dalam kegelapan. Nampak nyata tapi hanya berbentuk. Aku benci rintik gerimis itu. Seperti ketika aku menitikkan rintik itu di pipiku setiap momen yang tak pernah ku inginkan. Bahkan momen-momen yang senantiasa ku tolak pergi menjauh. Tapi Tuhan selalu punya skenario. Melebihi hebatnya penulis naskah handal di bumi ini. Kuasanya melebihi saudagar paling kaya di zaman-nabi-nabi.
            Kadang aku selalu berfikir logis. Sungguh ingin aku ukir dalam-dalam sajak dari daratan China yang jika kuterjemahkan ‘tak ada hujan yang tak berhenti.’ Aku ingin selalu memahat pepatah itu di dalam pikiranku. Sungguh. Tapi rintik hujan selalu membuatku pupus. Kegamangan membuatku tak bisa setegar itu. Gerimis. Seperti air mataku saat melepaskan kebahagiaan itu pergi dari kehidupanku.
            Gerimis pertama yang membuatku benci adalah ketika aku melihat jiwaku mati. Mati. Ya…jiwaku mati saat itu. Ragaku hidup. Kedua orang yang menjadi pedoman genetikaku memutuskan untuk pergi meninggalkan ragaku yang masih belia. Meninggalkan onggokan jiwa yang mati. Raga yang hidup hanya berdasarkan belas kasihan dan ketiadaan mata hati dari kedua DNA yang mengawali sel-sel darah dalam detak jantung ini berirama. Mereka telah pergi. Dan aku sendirian di tempat asing yang hanya berisi rasa belas kasihan. Belas kasihan karena melihatku manusia yang masih lemah, kerdil. Belas kasihan yang kemudian berhasil membawaku ke pergantian mendung menjadi cerah. Yang memberiku pagi dan siang yang nyaman. Yang memberiku malam yang gempita. Hari yang terus bergulir tanpa gerimis lagi. Mereka, yang memberiku nafas kehidupan lebih lapang lagi. Aku terbangun dari mati suri ku. Aku bangkit dan melawan gerimis itu.
Aku terseok, mencoba berdiri, bangkit, kemudian berjalan pelan-pelan menuju cahaya surya yang terang dan memberiku kehidupan sempurna.
Pada 2 ½ windu usiaku, tiba-tiba aku bertemu dengan mendung. Langit menjadi tak seterang biasanya. Mendung mulai menggantung. Gelap mulai mereyap menjadi awan-awan colombus di atas langit hidupku. Aku menatap cemas. Ya, akankah ada gerimis kembali dalam hidupku? Akan adakah gerimis kah dalam waktu dekat ini? Ya…rintik itu mulai turun. Langit bertambah gelap. Gulita menjadi semakin mencekam. Tuhan, -Kau meminta satu pijakan hidupku kembali padamu. Aku pincang. Terseok, rapuh, mencoba hidup. Tapi rintik hujan yang ku benci itu menetes bagaikan serangan spontan yang tak bisa ku lawan. Tuhan…aku hanya mampu bersimpuh pada Mu. memintaMu menjaganya dan mengampuni apa yang diperbuatnya dengan amalan-amalan yang membuat jiwaku hidup kembali. –Kau benar, Tuhan. Ia milikmu, akan kembali padamu.
            Gerimis itu mulai mereda. Aku kembali merangkak menyebrangi hujan, berharap masih ada siang dan terang yang membuatku nyaman. Ya, aku menemukan lentera itu. Lentera yang awalnya hanya tergantung di depan ragaku. Kemudian api kecilnya yang teduh dan tidak menyilaukan itu mulai memasuki jiwaku. Aku terlena dengan cahayanya. Aku berharap itu akan jadi pijakanku selanjutnya. Aku tak bisa terus berharap. Akan ku ukir kembali cahaya itu menjadi sang surya yang mampu memberiku kehidupan. Tapi sekali lagi aku terpekur. Mencoba mencari tahu sekali lagi dengan berdialog denganMu, Tuhanku. Apakah ini cahaya yang suatu saat juga akan tersapu mendung dan padam oleh gerimis. Karena ku sadari angin sekitar mulai meniup tanpa kompromi. Aku mendapat petunjuk itu, tapi terlambat. Aku terlanjur mengambil intisari cahaya itu ke dalam ruh jiwaku. Terlalu lama ia bersemayam menghiasi rongga kosong kehidupanku.
            Kemudian, tepat saat tengah hari yang terik, angin itu tiba-tiba berhembus. Meniup cahya lentera yang sudah hampir bertransformasi menjadi cahaya surya. Tiba-tiba terik mentari yang membakar semangat itu berganti mendung gelap. Tiba-tiba. Tanpa ku tahu sebelumnya. Tanpa sempat aku melindungi jiwaku dengan payung-payung yang teduh. Aku dibasahi rintik gerimis, yang kemudian menjadi hujan. Hujan yang jatuh setiap hari tak bisa dibendung. Airnya membanjiri rasa traumatisku. Aku benci gerimis. Apalagi hujan yang tiba-tiba. Aku kembali mati suri. Tak bisa memaknai setiap cahaya yang datang.
            Tuhan…aku berdosa padamu. Mengapa aku menolak takdirmu? Mengapa aku benci gerimis dan hujan? Tapi aku manusia biasa, Tuhan. Yang Kau anugerahi ruh tak sempurna. Aku hanya pasrah dan kembali berdialog denganMu melalui keyakinanku.
            Aku mendapatkan payung yang teduh. Hujan pun mulai mereda. Aku hanya tak menyukai gerimis. Tapi hanya tak suka. Tidak lagi membencinya yang berlebihan. Aku hanya akan melihat gerimis sebagai tetesan yang tak menyakitkan. Aku akan melihat mendung sebagai warna abu-abu yang menarik disandingkan dengan beningnya air hujan.
            Sekarang aku menyukai sinar bulan yang ada di malam hari. Kalaupun gerimis ada di malam hari, aku pasti sudah terlelap dalam mimpi-mimpi indahku. Aku hidup dari terangnya bulan yang memantulkan sinar surya. Tidak panas, terik, menyengat, tapi cukup memberiku jembatan untuk mengukir indahnya malam dan akan berganti menjadi kobaran semangat kembali di pagi hari. Aku bersemayam dalam kehangatan sinar bulan itu. Meski bulan tidak selalu sempurna, tapi ia tetap bisa memberi sinar diantara bintang-bintang di sisinya. Aku merengkuhnya dalam dekapku.
            Tuhan, Kau sangat adil. Kau buatku belajar menjadi manusia yang mengenal berbagai ciptaMu. Aku tak menyukai gerimis. Tapi aku membenci dunia yang tak pernah dibasahi rintiknya. Akan ada musim kering yang panjang, kerontang, kemudian akan terjadi kelaparan yang menyiksa. Kelaparan yang membusungkan nafsu dan amarah. Aku berharap masih ada gerimis, meski rintiknya begitu senyap di jiwa, tapi tetesannya membuatku mengerti. Tak ada malam yang tak berakhir. Tak ada hujan yang tak reda.
            Aku. Perempuan yang tadinya membenci gerimis, kini sanggup berdiri di tengah hujan. Karena akan ada malam yang membuatku bermimpi dan pagi yang membuatku bergerak melaju.
Aku perempuan yang merengkuh sinar rembulan. Tak berambisi seperti matahari, tapi mampu memberikan pancaran yang sejati.
Aku merengkuhnya, bahkan sampai pijakanku yang timpang diambil juga olehNya. Dan penghubung genetika ku pun akan melihatku hidup bahagia. Apalagi yang akan ku cari?
Plur, Retknow,Sept2009
Untuk sinar bulan yang selalu membimbingku dalam kegelapan.
Untuk surya yang belum sempat bersinar yang memberiku pelajaran berharga
Untuk kedua pijakanku yang telah bahagia di sisiNya
Untuk penghubung genetikaku yang menjadi jembatan ku ada di dunia ini.

Cerpen 'Enough'


ENOUGH.
J
ika harus jujur, saat ini pun ada satu hal yang belum pernah ku lupakan. Bertemu dengannya. Di pertengahan usiaku ini, aku hanya minta satu hal itu kepada Tuhan. Ya… tapi mungkin Tuhan memisahkan kami di belahan bumi yang berbeda. –Dia berharap kisah antara kami tak akan dimulai kembali. Atau mungkin, Tuhan punya rencana yang lain? Entahlah. Aku hanya menatap langit sore ini dengan kepasrahan yang sangat. Aku benar-benar pasrah apa yang di kehendaki-Nya bukanlah harus kuketahui. Itu rahasia pencipta.
Hingga pagi yang masih dingin ini, aku menyusuri jalanan sepanjang blok perumahan yang mulai menggeliat aroma kehidupan. Ku langkahkan kaki ini menginjak beberapa dedaunan yang jatuh dengan aroma hujan semalam. Aku menyelipkan tanganku pada blazer hitam yang kupakai. Sementara sepatu boot putih diatas mata kakiku mengayun sempurna menembus jalanan. Aku menyibak rambut panjangku yang tergerai bebas. Ada setiap saat perasaan itu sampai usiaku mencapai sedewasa ini. Perasaan yang sebenarnya biasa, tapi ini kualami bertahun-tahun lamanya. Perasaan menunggu sesuatu yang tak pasti. Menunggunya. Menunggu saat itu datang. Menunggu saat sinar mata itu kembali padaku, ku temui meskipun tak bisa lagi kumiliki seutuhnya. Aku tahu dia mungkin sudah memiliki orang lain. Tapi semua itu tak membuatku mudah melupakannya. Karena, bagiku kebahagiaannya adalah segalanya. Mengalahkan ego yang membuncah dalam hatiku. Mengalahkan bahagianya ketika bosku memberiku selamat atas prestasi kerjaku, mengalahkan saat aku dapat lulus S2 berpredikat cumlaude. Aku. Adrenallien Neurilemma Innasty. Nama biologi yang diberikan orang tuaku yang saat ini sudah tiada. Aku anak tunggal dari ayah bunda seorang ahli kimia dan ahli pertanian. Entah mengapa mereka menamaiku dengan hormon Andrenallin. Mungkin supaya aku menjadi terpacu, semangat menghadapi kehidupan ini meskipun berat. Sangat berat. Mereka meninggalkan aku selamanya, saat usiaku sudah 18 tahun. Semester 2 kuliah. Kecelakaan maut itu merenggut nyawa mereka. Tinggal lah aku sendirian di rumah bersama dengan kesepian yang sangat.
                Kehidupan percintaanku pun tak seindah remaja-remaja lain pada saat itu. Kisah yang membuat cerita ini mulai memasuki babak awalnya. Saat yang mungkin membuat semua titik konsentrasi memoriku buyar berkeping-keping. Saat yang mampu membawaku memasuki babak baru kehidupan yang sebelumnya tak ingin kunikmati seperti ini. Aku terhampar pada kenyataan yang bahkan aku tak pernah tahu bagaimana menuju klimaks sampai ke ending. Aku memang tak pernah memahami takdir dan tak pernah mau menerka-nerka atau bermimpi terlalu tinggi. Hayalanku bertepi pada kehidupan yang nyata, bahagia, dan sukses. Itu saja. Tapi istilah tengah itu membuatku jungkir balik mengikutinya. Kebahagiaan. Ya… sampai saat ini pun aku masih melihatnya dalam siluet kehidupan. Belum menatapnya secara nyata dan benar-benar ada. Tuhan… aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya bahagia kembali setelah sekian lama ujian itu Engkau berikan. Dan aku tak pernah lagi mau memikirkannya semenjak ini menjadi sebuah cerita yang menarik.
September 2004
Kampus  Saat mata elangnya menatapku dengan tajam. Menghujam jantungku dengan perasaan yang entah apa namanya. Aku tak bisa lari darinya. Meskipun ini bukan keinginanku yang sebenarnya. Ia mengunci persendian tanganku dengan genaggaman tangannya yang kokoh. Aku melihatnya sangat dekat. Bukan perasaan nafsu antara laki-laki dan perempuan, tapi lebih pada getaran rasa yang hebat. Rasa yang tak bisa kuungkapkan dengan gerakan atau kata-kata. Ia tertawa membahana dan mengacak-acak rambut pendekku. Aku mengikutinya menuju aula yang pada saat itu sebuah tempat dimana kami semua berkumpul. Aku sudah mengenalnya lama sekali, sangat lama, hingga aku terlalu hafal dengan apa yang terjadi berikutnya. Pasti yang keluar dari mulutnya dengan lesung pipit itu sebuah kata-kata ejekan candaan yang selalu diakhiri dengan lemparan remasan kertas dariku. Kemudian seisi aula menertawakan kami dan aku tersenyum masam sambil duduk menyilangkan kaki. Menatapnya dari jauh dengan segala keterbatasanku untuk diketahuinya adalah suatu hal yang menegangkan sekaligus menyenangkan.
“Jendral Besar” Sebutan untuknya di BEM kampus. Lalu mereka menobatkan aku menjadi sosok “Panglima” perangnya. Setiap rapat di kampus selalu dia yang menentukan strategi organisasi, sementara aku yang punya hak tertinggi menjalankannya. Semua anggota BEM menghormati itu. Tidak ada satupun yang protes atau diam-diam kudeta. Namanya mahasiswa. Mereka percaya pemimpin yang bijaksana. MAsalahnya pemimpin mereka tidak Cuma bijaksana, tapi sangat menarik. Menarik dari segala hal. Mulai dari ketampanan sampai dengan intelektualitasnya yang tinggi. Seperti apapun kebijakan jendral besarnya mereka akan angkat senjata untuk perang. Tapi itu hanya analogi. Kenyataannya organisasi kampus di kampus ku adalah yang paling tidak suka demo dan paling anti organisasi berplatform tertentu. Kami berjalan wajar sewajarnya saja. Sebagai mahasiswa yang menjadi penyambung lidah rakyat. Kami lebih banyak berkarya lewat seni, sastra, dan olahraga. Itulah kehebatannya. Saat masa muda bergejolak, kami meredamnya dengan kegiatan positif. Itulah kehebatan Jendral Besar kami.
                “Alien,…jangan banyak ngelamun. Belanda makin dekat. Itu udah siap belum masalah LKTI tingkat nasional?”
Aku terhenyak menatap si empunya suara. Benar-benar di dekat telinga.
                “Bisa…agak jauh? Heloooo…ini telinga makin tipis rasanya.”
Dia tertawa. Seperti biasa. Keanehan yang menurut mereka semua yang mengenal kami sesuatu yang wajar. Tidak wajar kalau kami berhenti bertengkar. Atau menganggap kami sakit kalau tiba-tiba seharian tanpa komentar dan kami berjalan beriringan sambil terbahak. Nha.. aku berharap kami bisa sering sakit. Biar terlihat akrab. Tapi kami memang ditakdirkan begitu, mungkin.
                “heh…muka-muka mereka pada capek, nungguin kamu!”
Hujatnya sambil ngacak-ngacak rambut cepakku. Sebagai wanita yang terkenal semi wanita alias tidak ber style wanita aku biasa saja. Tapi yang belum kenal kami akan berkata ‘tuh cowok nggak ada sopan-sopannya’. Aku mencibir sambil mengeluarkan setumpuk kertas dari tas ransel besarku.
                “Nih! Amunisi LKTI sudah siap ditembakkan!”
Seisi ruangan terbahak dan bersorak-sorai. Dia hanya menatapku tajam dan menggeleng-geleng.
                Seperti biasa, usai rapat kami nongkrong di warkop fakultas sambil masih diskusi. Tapi siang itu anak-anak pada capek, katanya. Tinggal aku, si Jendral gila itu, dan Aris salah satu anggota BEM. Aris pun akhirnya mohon diri setelah dapat telepon dari seseorang. Mungkin pacarnya.
                “Enak, ya.. si Aris diperhatiin.”
Aku terbahak mendengarnya. Siapa yang nggak kenal orang di depanku ini. Seisi kampus juga tahu dia. Seisi kampus juga kagum padanya. Tapi sekali lagi tidak ada yang berani mendekatinya. Sama halnya dia tidak pernah punya hasrat mendekati siapa pun. Meskipun bejibun wanita cantik di kampus besar kami. Meskipun entah berapa hati yang berhasil dipatahkan akibat kecuekannya.
                “Eh… kirain homo.”
Kataku asal. Dia melotot. Aku terbahak sampai kopi di mulutku terciprat keluar.
                “Lha mendingan homo, daripada nggak ada yang naksir.”
Aku terbahak lagi.
                “artinya kita sama.”
Dia tertawa dan tiba-tiba sudah berbisik di telingaku
                “Kamu  naksir saya, ya?”
Aku terhenyak dan menatapnya. Sejak kapan pikiran gila itu sampai ke otak si jendral gila itu. Mukaku memerah seketika.
                “akui sajalah…nggak perlu sembunyi-sembunyi begitu. Kurang apa sih?”
Tanyanya sambil tersenyum ke arahku. Tiba-tiba nyaliku menciut dan untuk pertama kalinya aku diam seribu bahasa. Tiba-tiba terdengar tepuk tangan tunggal. Dia terbahak
                “Just kidding. Udah… ayok pulang. Sepertinya kurang sehat lu ya? Pucet gitu.”
Aku mengangguk dan menghela nafas lega. Sialan. Aku pikir dia bisa membaca pikiranku. Seperti biasa kami menyusuri pintu keluar kampus sambil tetap adu argument. Dan seperti biasa pula dia berjalan di sampingku sambil memegang kepalaku dan mengacak-acak rambut cepakku. Yang berbeda, perasaanku makin kalut. Aku berharap cepat lulus dari kampus dan tak melihatnya lagi. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.Dan itu salah.
Kampus memupuk perasaanku padanya. Tapi sekali lagi sampai lulus pun aku tak berani mengakuinya. Si jendral besar gila yang punya mata elang itu pun yang ku tahu tetap seperti gunung es. Aku hanya berani menatap kharismanya seperti ratusan cewek di kampus ini yang kagum padanya. Meski aku punya peluang besar untuk setiap saat berinteraksi dengannya. Itulah. Aku hanya mau meyimpan semuanya rapat-rapat di brankas hatiku. Tak ada seorangpun yang akan kuberitahu sekalipun itu sahabatku sendiri. Biarlah kami akan bersama tanpa tendensi apapun. Aku berharap begitu sampai kami lulus dari kampus nanti.
Seperti yang ku duga, kami semua lulus dari kampus dalam waktu yang hampir bersamaan. Kami meninggalkan BEM 6 bulan sebelum kami lulus. Perpisahan yang menguras air mata jiwaku waktu itu. Saat dia memelukku untuk terakhir kalinya di organisasi dan mengucapkan kalimat pamungkasnya
“makasih, ya. Sudah jadi panglima gue. Sudah sabar jadi partner gue yang begini. Sorry kalo banyak salah.”
Aku tak bisa berkata-kata. Air mataku hampir turun, tapi ku tahan sekuat tenaga. Aku ini panglima. Harus kuat. Meski pertahanku runtuh seketika melihatnya berbalik badan. Di balik kekuatanku ada hati yang rapuh yang saat itu pun sudah patah. Pertama kalinya aku patah hati sebelum tahu indahnya hubungan. Dan itu terakhir kalinya aku menjauh darinya untuk konsentrasi akhir studi di kampus dengan berbagai macam alasan klise lainnya. Selamat tinggal jendralku. Meski tiap malam aku terbangun dan mengenali mimpiku berisi tatapan elangnya. Masih terpahat sosoknya yang selalu hadir di hari-hariku di kampus mengiringi masa-masa kuliahku. Lalu semuanya harus berakhir. Aku yang mengakhirinya dengan idealisme ku. Bagiku tidak perlu lagi melihatnya biar apa yang ada di hatiku makin tidak tumbuh subur. Pengecut. Itulah aku pada masa itu.
Sampai perayaan wisuda selesai, aku tak berani menemuinya. Sekali lagi aku ingin rasa itu pupus. Karena ku yakin aku bukan pilihannya. Hingga SMS terakhirnya “Selamat, ya. Jangan lupa pernah mengenalku.” Ido jerry P.
Aku menghapus semua akses tentangnya dan selalu akan mengenangnya sebagai kenangan terindah. Cukup.

September 2011
Reuni BEM kampus. Aku menemukan seluruh isi ruangan. Diantara banyak orang, aku menemukannya kembali. Dia tidak berubah. Masih seperti dulu. Kharismanya menghipnotis semua orang di ruangan itu. Serasa dial ah yang paling dikagumi disana. Aku berdiri di belakang alumni lain dan hanya asyik main gadget. Entah darimana asalnya, dia sudah muncul dihadapanku. Bukan untuk adu argument, tapi untuk menegurku
“Sengaja lupa atau bagaimana? Apa sih salahku?
Aku menatapnya dengan kekagetan luar biasa. Lalu aku menghela nafas panjang dan menghibur diri. Dia memang suka bercanda. Mungkin tidak berubah candaannya. Yang berubah adalah dia tidak lagi mengacak-acak rambutku yang masih tetap cepak, meski sudah stylis. Dan aku sudah berusaha menstandarkan penampilanku seperti para wanita pada umumnya. Meski style casual tetap tersandang di diriku.
“Nggak, aku hanya panglima, kan. Hak prerogative kan milik mu.”
Dia tertawa. Tidak seperti dulu yang masih kacau terbahak di warkop. Aku tak berani menatapnya langsung. Seperti biasa kamuflaseku melewati pundaknya menatap yang tidak kea rah mata elangnya. Sekali lagi aku tak berani. Sungguh. Aroma parfumnya yang maskulin masih menggodaku untuk tidak menjauh darinya. Tapi sekali lagi aku tak berani mendekatinya.
“Kuliah sudah kelar kali… jangan anggap aku nih masih apa tuh… jendral. Kita sama disini. Sini lah gabung. Ayok… ceritain kisah hidupmu. Plis.”
Aku mengangguk sambil mengikutinya ke  arah anak-anak lain. Sebelum sampai ke kerumunan alumni, dia berbisik
“Masih naksir ? Ayo…kita jadian disini..”
Seperti stroom ribuan watt mendengar bisikannya yang gila itu. Entah darimana ide gila itu menyertai acara reuni yang sakral itu. Nyaliku menciut, dan keringat dingin membanjiri bajuku. Ah, kenapa aku ini? Seperti tak menegnalnya yang hobi bercanda. Aku pura-pura memukul bahunya dan buru-buru kea rah anak-anak yang lain. Bergabung. Persetan dengan Ido yang sesaat kemudian sok jadi narasumber cerita paling menarik. Sampai akhirnya saking menariknya dia aku mulai menjauh dari kerumunan dan minta diri duluan. Semenjak saat itu aku tak berani lagi ikut reuni. Aku tak mau bertemu dengan sosok mata elang yang membuatku senam jantung saat bercanda. Aku hanya takut candaannya membuatku khilaf untuk mengakui yang sebenarnya. Betapa patah hatinya kalau sampai ditolak. Cukup.
Setelah reuni terakhir kami, aku berjanji menutup seluruh akses tentangnya. Meski kadang rasa rindu membuncah teramat sangat. Sampai zaman media sosial tiba. Zaman dimana kita bisa mencari kembali jarum di tumpukan jerami. Zaman dimana kita bisa menemukan siapapun di muka bumi ini tanpa kesulitan. Tapi digitalisasi tak membuatku bisa menemukannya kembali. Grup-grup medsos hanya mengenangnya tanpa tahu nomor terhubung yang bisa membuatnya muncul kembali mejadi jendral besar kami. Semuanya nihil. Dan aku mulai putus asa bisa melihat kilatan sempurna mata elangnya lagi. Pupus.
Lamunan berkepanjangan ku berangkat kerja hanya sampai depan kantorku. Setelah ini semua akan berjalan normal, karena kejadian yang kupikirkan tadi sudah lewat bertahun yang lalu. Ssepertinya aku juga tidak akan bertemu Ido lagi. Kota tempatnya tinggal alias kampus kami sekrang sudah jauh dari tempatku bekerja. Kami punya komunitas di medsos tanpa dia. Cuma aku kurang aktif medsos an. Sekali lagi tuntutan pekerjaan dan akan mengingatkanku terus akan masa lalu yang menggantung itu.
Sampai siang bekerja, aku masih di suasana sewajarnya. Hingga sore menjelang pulang kerja tiba-tiba HPku bordering. Aris. Alumni kampusku. Anak BEM. Entah kenapa perasaanku tidak enak.
“Alien, kamu bisa berangkat ke RS deket kampus kita? Plis…nomormu ada di anak-anak alumni. Tiket pesawat gampang, aku yang pesenin. Plis, jendral sakit parah. Kritis. Aku serius. Leukimianya sudah stadium 3. Aku takut kamu tidak bisa melihatnya lagi.”
Seluruh sendiku ngilu dan kaku. Ido??? Ada apa? Dia sakit. Tuhan, aku hanya sibuk memperhatikannnya tanpa tahu dia sakit. Padahal reuni waktu itu tidak pernah terlihat tanda-tanda itu. Aku langsung berkemas dan cepat meluncur. Untungnya hari jumat. Besok weekend.
Sampai di rumah sakit, Aris menyambutku. Air matanya disusut dan mengajakku duduk di ruang tunggu rumah sakit.
“Tolong jangan sedih, Alien. Dia sudah tiada.”
Dunia ku runtuh. Nafasku berhenti sejenak. Tanpa sadar air mataku mengalir deras tanpa henti. Mulutku tercekat dan seluruh bayangannnya tiba-tiba muncul.  Setelah sadar, aku mengguncangkan tangan Aris.
“temen-temen yang lain mana, Ris?”
Aris menghela nafas panjang.
“dia tidak pernah menunggu yang lain. Dia hanya menunggu kamu. Dan aku saksinya.”
Aris memeluk tanganku.
“Kita ke rumah Ido, ya. Disana jenazahnya sekarang. Kamu terlambat sedikit. Ayo.”
Entah perasaan macam apa yang menyelimuti ku saat ini. Baru tadi pagi aku melamunkan kejadian-kejadian itu. Lalu sekarang benar-benar di tahapan alur terakhir. Ending.
Di rumah Ido, pertama kali melihatnya tanpa suara dan tanpa candaan khasnya meluruhkan air mataku. Satu kata yang bisa kuucapkan padanya. “maaf.”
Terakhir setelah pemakamannya, Aris memberikan sesuatu padaku.
“Ini titpannya. Tolong disimpan. Jangan pernah dilupakan. Dia mencintaimu. Menunggumu dan tak pernah berani mengatakannya, karena dia tahu umurnya tidak panjang.”
Seluruh hidupku berbalik 360 derajat. Tiba-tiba aku merasa bahagia. Sesaat. Meski sudah terlambat. Tuhan sudah punya garis takdir yang jelas untuk ku. –Dia memanggil orang-orang yang mencintaiku untuk abadi di sisi Nya. Takdir ku adalah bahagia dengan kehidupan yang diberikan Nya untuk ku. Bersyukur, karena ternyata aku pernah dicintai. Pernah.
Buku harian itu menjadi saksi bagaimana cinta selalu penuh misteri, penuh ketulusan tanpa tendensi. Sepenggal tulisan Ido di halaman akhir buku hariannya
Alien.
Aku mengenalnya sebagai cewek yang sangat biasa. Tidak istimewa. Tapi pada kenyataannya dia membutakan hidupku dengan cinta. Aku baru menyadarinya saat nyaman berada di dekatnya. Tidak ada keinginan apa pun di dirinya padaku kecuali ketulusan. Aku mencintainya. Meski aku tak berani mengatakannya. Hanya ingin membuatnya bahagia. Itu saja. Latar belakang kehidupannya yang ditinggalkan orang-orang terkasihnya membuatku harus berfikir seribu kali menyatakan perasaanku. Bagaimana aku akan menemaninya, aku sendiri dihadapkan pada tagdir. Hidupku tidak lama. Bagaimana aku harus melihatnya menangis? Sementara ketegarannya lah yang membuatku bisa bertahan kuat selama ini. Aku tahu dia menyimpan semuanya di hatinya kuat-kuat, ketika aku diam-diam tahu dia memperhatikanku dari jauh, mencoba menyimpan perasaannya, entah sampai kapan. Rasa ini makin ingin kuungkapkan, saat melihatnya lemah. Tapi aku tak mau membuatnya menangis lagi. Biarlah air matanya surut. Biarlah dia bahagia. Bagiku itu saja cukup.
Maaf.
Aku sudah menyusut air mataku. Aku sudah tidak bersedih lagi. Aku sudah bahagia. Untuk membuat mereka yang mencintaiku bahagia. Sekali lagi aku tak kan menitikkan air mata kesedihan. Tuhan, beri aku kekuatan.
PLUR 28 Oktober 2019
Asline ora pengin ngene critane. Tapi kok sad ending tetep apik yo…
Yo wes rapo po lah… penting wes ending. Ternyata lumayan…