Judul. : KISAH SUKSES PENGAMEN
Pengarang : Adam Fadli Prasetya
Kelas. : XAP 1
Seorang pengamen sedang berbincang bincang dengan seseorang.
Lelaki. : Mas...luar biasa nih..ngamen.
Suaranya dong bagusin lagi.
He he..
Pengamen : Ya...beginilah mas...namanya
juga cari nafkah
Lelaki. : Emangnya penghasilan mas
berapa sehari-hari?
Pengamen. : Yah...nggak tentu mas. Kalo
lagi rame 15 sampai 30 ribu.
Kalo sepi..malah 10 sampai 15
jutaan.
Lelaki. : Lho kok bisa begitu...
Pengamen. : Iya mas. Kalo lagi sepi kan
bisa sambil nyolong motor...
Lelaki. : Ha....(Tertegun)
Selasa, 19 November 2019
Contoh teks anekdot
Mengkoversi teks anekdot dari contoh teks yang disediakan
Judul : Mati Gaya
Karya : Diajeung Suci Rahayu
Kelas : X Ak 1
Ada seseorang yang bertemu dengan temannya di sebuah mall ternama di Jakarta. Terjadilah dialog berikut.
Melita : Eh... Ajeng...lama nggak ketemu.Gimana kabarnya?
Ajeng : Eh...Melita.Baik kabarnya. Btw loe ngapain disini?
Melita : Gue belanja, Jeng. Loe sendiri?
Ajeng : Gue baru beli make up di Sephora. Beli Skincare.Beli baju di Gucci. Beli sepatu Nike. Terakhir gue ke h&m beli underware.
Melita : Oalah
... Belanjaan loe branded semua. Eh...loe juga bawa brosur mobil kayak gue.Mo beli mobil juga?
Ajeng : Iya nih. Gue mau ke atm transfer uangnya.
Melita : Gila...si Ajeng udah gaya banget sekarang. Blanjaannya banyak...punya mobil.Ntar kalo ketemuan udah nggak ngojek lagi dong...
Ajeng : Banyak sih banyak...branded sih branded tapi itu bukan punya gue...Mel...
Melita : Maksud loe?
Ajeng : Itu blanjaan n mobil majikan gue...
Melita : oooooh.... loe.. [Sambil menutup mulutnya karena kaget]
Judul : Mati Gaya
Karya : Diajeung Suci Rahayu
Kelas : X Ak 1
Ada seseorang yang bertemu dengan temannya di sebuah mall ternama di Jakarta. Terjadilah dialog berikut.
Melita : Eh... Ajeng...lama nggak ketemu.Gimana kabarnya?
Ajeng : Eh...Melita.Baik kabarnya. Btw loe ngapain disini?
Melita : Gue belanja, Jeng. Loe sendiri?
Ajeng : Gue baru beli make up di Sephora. Beli Skincare.Beli baju di Gucci. Beli sepatu Nike. Terakhir gue ke h&m beli underware.
Melita : Oalah
... Belanjaan loe branded semua. Eh...loe juga bawa brosur mobil kayak gue.Mo beli mobil juga?
Ajeng : Iya nih. Gue mau ke atm transfer uangnya.
Melita : Gila...si Ajeng udah gaya banget sekarang. Blanjaannya banyak...punya mobil.Ntar kalo ketemuan udah nggak ngojek lagi dong...
Ajeng : Banyak sih banyak...branded sih branded tapi itu bukan punya gue...Mel...
Melita : Maksud loe?
Ajeng : Itu blanjaan n mobil majikan gue...
Melita : oooooh.... loe.. [Sambil menutup mulutnya karena kaget]
Sabtu, 9 November 2019
#tulisankeren#unik#
Kontemplasi Sayur Lodeh
Sepanjang 18 tahun sebelum masa
perguruan tinggi dan aku kos. Di meja makan hampir setiap hari ada sebuah sayur
yang sangat familier di lidahku. Hanya berganti jenis sayuran dengan bumbu yang
sama. Sayur lodeh. Lodeh jawa timuran yang identik dengan aneka macam sayuran.
Rasa kuahnya sama persis. Hanya dengan bawang putih, bawang merah, cabe rawit
yang diulek usai di sauté /tumis. Lalu
ditambahkan santan kental untuk menggurihkan rasanya.
Sayur
lodeh menjadi isi perutku selama 18 tahun dan seterusnya. Sampai aku hafal
sekali memasaknya. Mungkin kalau ada festival sayur lodeh dengan cita rasa jawa
timur aku pede jadi juri. Kenapa sayur lodeh?
Ada filosofi dibalik sayur
bersantan itu.
1. Tanpa lauk
pun sayurnya sudah gurih.
2. Bisa
diangetin sampai kapanpun bahkan sampai kering kerontang. (Makin lama sayur
lodeh diangetin makin enak menurutku).
3. Hanya
bermodal sedikit tapi sudah lengkap.
4. Panci yang
dipakai masak lebih enak panci yang jelek atau yang sudah sering dipakai
(Semakin tua semakin berisi/bijaksana)
Itu filosofi sayur lodeh setelah ku
teliti selama bertahun-tahun. Nggak perlu ada latar belakang, rumusan masalah,
masalahnya sudah jelas. Ekonomi. Alias ngirit.
Sayur
lodeh menjadi saksi kehidupanku selama 18 tahun. Sudah pasti sayur itu menjadi
sayur wajib yang sangat ku sukai. Mungkin seandainya disuruh memilih diantara
makanan yang beraneka ragam di dalam sajian buffet aku akan memilih sayur
kesuakaanku. Lodeh. Kenapa? Karena menurutku rasa sayur lodeh sudah mendarah
daging di lidahku. Alias pasti rasanya aku suka. Kecuali nggak ada sayur itu.
Baru aku akan memilih yang lain.
Persetan dengan kata 'kolesterol'. Menurut saya kolesterol tidak akan ada dalam tubuh hanya dengan 3 centong kuah bersantan. santan itu kan nabati. Obat kolesterol adalah berfikir rileks dan gaya hidup wajar. He he... Pendapat tentang kesehatan pada sayur lodeh bisa disanggah oleh Almarhum kakek saya dan buyut saya yang meninggal di usia lebih dari 80 tahun tanpa menderita sakit yang kronis. Hanya karena sudah tua. itupun terjadi di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sekitarnya yang nyatanya orang-orang di sana rajin mengkonsumsi sayur bersantan, tapi hidupnya wajar-wajar saja. Itu pilihan Anda lah.. jangan terlalu percaya dengan saya.
Sayur
lodeh yang dibuat nenekku telah mengalami revolusi ketika aku yang memasaknya.
Aku berinovasi dengan kemiri, kunyit, ditumis dengan minyak zaitun, minyak
kelapa asli, dsb. Dsb. Tapi tetap aku akan kembali pada racikan semula di
tempat semula. Karena memang itulah ciri sayur lodeh. Simple dan sederhana.
Seperti filosofi hidupku. Sederhana. (Ameliorasi dari miskin. He he…)
Sayur
lodeh menemaniku dari Ebtanas SD sampai PMDK dan aku diterima di kampus negeri.
Dengan sayur lodeh pula imajinasiku menghasilkan karya-karya besar yang jarang
ku ekspose. Kenapa tidak ku ekspose? Karena aku pelit. Cukup sekali karyaku
diakui media cetak. Sekali lagi… aku pelit. Karyaku hanya boleh dibaca orang.
Tapi aku selalu berjaga di garis depan untuk melindunginya dari tangan-tangan
usil plagiator. Tidak. Harga diriku.
Melalui sayur lodeh pula aku bisa berfikir lebih lancar saat menulis skripsi, tesis, bahkan menulis apapun. Atau bahkan mungkin..mungkin saja melalui sayur lodeh lah suaraku bening, mengalun merdu. Curiganya, melalui sayur lodeh juga jangan-jangan urat malu ku di atas stage putus dengan sendirinya. Tidak ada kata nervous dalam hidupku ketika bicara di atas panggung. Teknik public speaking dalam retorika mungkin ditambah satu, yaitu makanlah sayur lodeh. Kalau disetujui.
Sekali lagi ini hanya kontemplasi saya. Sekadar hasil perenungan lama tentang satu hal yang sebenarnya tidak penting-penting amatlah... Tapi itulah saya. Sesuatu yang tidak penting kadang membuat inspirasi saya hadir. Itulah saya.
Apa yang terjadi jika
1. Sayur lodeh tidak boleh menjadi menu sehari-hari lagi karena alasan tertentu;
2. Saya ada di sebuah komunitas selama bertahun-tahun yang membenci sayur lodeh ;
3. Saya harus berhenti memasak sayur lodeh karena sebuah situasi, sementara tidak ada lagi orang yang bisa memasaknya;
4. Intinya tidak ada lagi sayur lodeh di dunia ini alias sudah punah
Yah... saya harus ganti menu. Mungkin sayur lain, meski kata saya tidak semedok dan segurih sayur lodeh saya. Sayur lodeh akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Mangkannya saya up load lah dia di blog ini supaya minimal pernah ada yang menuliskannya. Ada bukti otentik bahwa si sayur pernah ada di dunia ini. Kalaupun sayur lodeh tiba-tiba di rename pun saya yang pertama akan membuat sinonimnya. He he...
Plur 3 November 2019
Isnin, 4 November 2019
SILUET 1 JUNI
1 Juni 2002
Tiba-tiba ia menepuk-nepuk kedua telapak
tangannya pada celana jeansnya. Lalu tangan lembutnya terulur ke arahku.
“Dzil.”
Aku
terpaku menatap tak mengerti. Mahluk apa gerangan di depanku ini. Mata
kecoklatan lebar, kulit putih, tinggi semampai, hidung hampir 70 derajat. Aku
masih menatapnya tak mengerti.
“Achmad Dzil Basyari.”
Aku
menerima uluran tangannya sambil ternganga di tengah keterkejutanku sendiri.
Mahluk itu mengikutiku sampai kesini. Ke tempat favoritku di kampus baru ku
ini. Warkop. Mana kakiku menyilang dengan bandana polos warna hitam di kepala
dan ikat dari kain di tangan kanan. Mirip preman pasar yang nyasar siang-siang.
“maksud …..nya…”
Dia
tersenyum. Busyet! Sorry ngumpat saking kagetnya. Lesung pipitnya melekuk
sempurna dibingkai rahang indah ala ala drama Turki. Ini mahluk apa ya? Aku
masih terdiam. Sementara dia dengan santainya duduk di depan ku. Tepatnya di
depan kopi hitam kentalku yang sengaja ku balik gelasnya di alasi piring kecil.
“Bagus banget puisinya. Suer! Namamu
siapa tadi?”
Aku
tersenyum masam. Cowok keren berwajah Arabian itu mengikutiku untuk ngasih
reward puisi yang kubaca saat di hukum acara ospek tadi. Nggak penting. Tapi
aneh. Aku menurunkan kakiku dan mengikuti arah tatapannya yang tiba-tiba terasa
senyap. Seolah-olah memasukkan ku ke alur cerita panjang yang akan terjadi. Wadhuh
gawat! Gawat! Aku cepat-cepat menghabiskan kopiku dan tersenyum ramah padanya
lalu beranjak pergi sambil membayar kopiku yang ternyata….
“Udah di bayar, Mbak.”
Mendapat
jawaban singkat medok ala Jawa Timuran dari ibu penjaga warkop. Aku menoleh
pada mahluk menakjubkan itu sesaat. Disana senyumnya mengembang dan dia pun
mengikutiku melangkah keluar warkop. Gagal! Niat kabur yang gagal! Sial!
“Nama situ siapa? “
Dia
malah mengikutiku jalan kea rah kos ku.
“hei..”
Aku
berhenti sejenak sambil menyerahkan kartu opspek ku yang masih tergantung di
leher. Ia menatap nama yang sudah menjadi darah daging dalam diriku itu dengan
saksama. Berjarak beberapa centimeter dadaku bergetar hebat. Aroma vanilla yang
manis menyeruak. Aku menarik nametake ku sambil jalan buru-buru. Ia hanya
tersenyum di tempatnya. Aku sempat meliriknya sekilas. Untuk apa aku melirik?
Tuhan! Ini apa namanya, ya? Aku geleng-geleng kepala menyadari alur cerita hari
ini.
1 Juni 2004
“ Aku gagal menulis namamu di sini.”
Ia
menunjuk dadanya tepat di tengahnya. Tempat jantungnya berdetak. Detak yang
dulu membuatkan ku alur cerita indah. Aku menahan butiran bening yang nyaris
keluar dari pelupuk mataku. Tuhan…Engkau telah mengirimkan mahluk sempurna ini
dalam hidupku. Dan kini aku akan mengembalikannya pada taqdirnya. Mungkin.
Sesuai janjiku padaMu. Bahwa aku akan
membuatnya menjadi dirinya. Menjalani kebahagiaan yang seharusnya dia miliki.
Kami berpisah di tempat yang tak
asing lagi. Kursi kayu bawah pohon. Warkop yang dulu tempat favoritku telah di
gusur semester yang lalu untuk dijadikan taman fakultas. Tak pernah ada tangis
atau derita saat bersamanya. Saat menjalani hari ku disisinya. Aku tak boleh
terluka. Sedih. Bahkan sampai menumpahkan air mata.
“Maaf.”
Kata
yang tak pernah ia inginkan untuk ku ucapkan. Kata yang seharusnya tak ku
ucapkan. Ia merengkuh tanganku ku di dadanya
. Aroma vanilla menusuk hidungku.
Mengingatkanku akan manisnya saat-saat
kami dalam satu waktu. Tak ada rasa apapun selain rasa yang tak bisa kami
maknai. Aku denga aksen kecuekanku. Dia
dengan aksen ramah yang tidak berlebihan. Sabar. Tak ada kata ‘tidak’ dalam
kamusnya untuk ku. Tak ada kata ‘bosan’ saat bersama ku. Sementara aku dengan
kecuekanku menanti bom waktu
yang terus menggeliat perlahan dalam alur cerita kami.
“Dirgahayu. Semoga bahagia.”
Ia
melepas kacamata hitamnya yang menggantung sempurna di hidungnya yang memikat
seluruh penghuni kampus ini. Yang dulu membuatku bersyukur bisa menatapnya di note book ku saat kuliah. Yang membuat
seluruh wanita-wanita di kampus menatapku iri.
“Reyn…kamu akan bahagia?”
“ya. Pasti.”
“Syukron.”
Aku
menatapnya. Sorot bola matanya sekarang memberitahuku kalau alur cerita kami
sudah tamat. Sad Ending. Untuk yang terakhir aku menatapnya dari dekat. Bye…
kisahku.
1 Juni 2028
Usai
meeting dengan dewan senat kampus,Sebuah memo terselip di rangkaian bunga di
meja kantor.
CAFÉ DIOR 17.00. MEJA 10
EL TSAFIQ.
Aku
menatapnya sesaat. Aroma vanilla yang khas. Aku pasti bermimpi. Tapi ini bukan dia…. Ini hari ulang tahunnya.
Astaga!
16.50. Masih berbalut blazer abu-abu dan stiletto hitam ber heels sedang membuatku
berjalan cepat menuju café yang tak jauh dari kampus tempatku mengajar. Ya
Allah tidak! Ini bukan dia. Bukan. Dia koma seminggu yang lalu.
“Nama
saya El Tsafiq Al Katiri.”
Aku
menatap sorot matanya yang kecoklatan membuatku mengingat kembali alur cerita
yang pernah terjadi. Aku meraba
hidungnya yang sempurna. Lesung pipit yang melekuk indah di dekat bibirnya.
Pasti dia dilahirkan oleh mahluk suci yang juga sempurna. Subhanallah. Aku
mundur dari hadapannya. Kami duduk bersebrangan berbackground langit ibukota
yang mulai memerah.
“Namaku Reyna. Adrenallien Reyna.”
“Reyna Neurilemma Innasty. Umi
banyak cerita tentang Anda. Syukron. Kata umi. “
Sahutnya
sambil menatapku lekat-lekat.
“Afwan.”
Kau
sudah ada dalam bingkai kebahagiaan yang tepat. Keluarga yang bahagia. Amiin.
Kami duduk di sebuah café di tengah
ibukota yang sibuk sore ini. Aku menahan segala bentuk kesedihan. Air mata.
Rasa haru. Yang ku lukiskan saat ini adalah senyum. Bahagia.
“Abi titip ini.”
Dia
menyerahkan goody bag kecil. Aku mengeluarkan kotak beludru merah maroon warna
kesukaanku. Nampak sebuah kertas dan pulpen hero silver. Pulpen yang dulu
pernah ku buang di tempat sampah kampus karena aku gagal dapat beasiswa.
“Abimu, sehat?”
Lelaki
di depanku menatapku sambil tersenyum. Senyum duplikat yang dulu menghiasi mimpi-mimpi malamku.
“Insya Allah. “
Tulisan
di kertas itu singkat. Tapi membuat seluruh detak jantungku berhenti untuk
sepersekian detik.
JIKA
KAU BAHAGIA. TERSENYUMLAH. SYUKRON.
Sejenak kami terdiam sambil
memandangi senja. Pangeran mu yang
tampan bercerita semua. Semua yang terjadi selama ini. Seperti doa-doaku. Kau
tak pernah bilang ‘tidak’ untukku. Ketika kau harus bahagia, kau selalu
mendoakanku bahagia. Membuat kan ku ruang untuk bahagia. Tak memberi kesempatan
untuk ku bersedih. Apalagi menitikkan air mata. Aku tak boleh melukai semua
yang telah kau lakukan untuk ku. Aku memang sudah bahagia. Untuk itu aku tersenyum.
Pangeran tampanmu berkata
“kalau saya tidak membawa senyuman
Anda, saya tidak bisa kembali ke Abi.”
Aku
mengangguk dan menerima uluran tangan pangeranmu untuk segera mengakhiri pertemuan
hari itu. Sekaligus melepas senja. Ia mengucapkan satu hal yang tak bisa ku
lupakan
ANDA
BOLEH PERCAYA CINTA. TAPI ANDA HARUS PERCAYA JODOH DAN TAQDIR.
Kami berpisah senja itu diiringi
senyum dan saling mendoakan.
Aku
kembali ke rumahku. Bersama keluargaku. Kedua buah hatiku. Dewi-dewiku yang
cantik. Yang selalu kubacakan dongeng tentang putri yang berhati lembut dan
bertemu seorang pangeran tampan ber hati mulia. Aku bahagia dengan taqdir dan
jodohku. Semua kisah yang menjadi tonggak hidupku menjadi berwarna. Aku titip
salam untuk setiap mahluk Mu yang pernah menjadi pondasi kebahagiaanku melalui
skenario indah Mu. Tuhan.
Syukron.
Setiap kisah pasti punya
makna.
Setiap cerita utuh pasti
punya ending.
Setiap keinginan pasti
diakhiri taqdir.
Plur 2016.
JIKA AKU…
Aku mencintaimu
Tak peduli bom waktu meledak seketika
Tak bergeming meski detik tak lagi berdetak
Aku mencintaimu
Tak peduli sakit atau normalku
Tinggi atau sabarku
Orgasme nafas hidupku
Ketika aku terpaku menatap celah diantara putih dan hitamnya
bola matamu
Geletar jiwaku
Mengalir indah
Semerdu alunan biola
Dan hatiku
Bisa saja tiba-tiba
Tersayat ngilu
Ketika
Engkau tak lagi bisa menghantuiku
Ketika aku memilih untuk tidak lagi
Mencari back sound mengiringi jiwaku padamu
Aku
mencintaimu
Sampai
ku ingat selalu
Tiap
meeting, shoping, etc
Aku
mencintaimu tiap aku
Mendadak
demam
Sampai
aku tertawa terbahak
Aku mencintaimu
Sampai aku kenal warna baju yang kau pakai
Kenal kapan kau berhenti melangkah
Berhen ti bergerak untuk sekedar
Membetulkan sesuatu
Kenal kapan kau duduk termenung di dekat cangkir minummu
Kenal kapan kau duduk termenung di dekat cangkir minummu
Kenal kapan kau tertidur pulas
Saat berhenti beraktivitas
Melawan mesin waktu
Aku
mencintaimu
Sampai
terkalahkan sudah batas antara sabar dan emosiku
Sampai
aku tak lagi tahu
Kapan
aku akan bergerak pergi
Mencari
hati lain lagi
Sampai
tak terpikirkan olehku
Lulus
dari almamater kerinduan ini
Sampai
aku jadi ikatan alumni kasihmu
Aku mencintaimu
Sampai aku tak sempat lagi
Menghitung struk gajiku
Kapan jadwal harianku harus ku ganti
Aku
mencintaimu
Sampai aku tak sadar
Waktu
pelan-pelan memotong usiaku
Dan aku
mencintai semuanya
Termasuk
hal terburuk darimu…..
Perempuan yang Membenci Gerimis
PEREMPUAN
YANG MEMBENCI GERIMIS
Kadang aku selalu berfikir logis.
Sungguh ingin aku ukir dalam-dalam sajak dari daratan China yang jika
kuterjemahkan ‘tak ada hujan yang tak berhenti.’ Aku ingin selalu memahat
pepatah itu di dalam pikiranku. Sungguh. Tapi rintik hujan selalu membuatku
pupus. Kegamangan membuatku tak bisa setegar itu. Gerimis. Seperti air mataku
saat melepaskan kebahagiaan itu pergi dari kehidupanku.
Gerimis pertama yang membuatku benci
adalah ketika aku melihat jiwaku mati. Mati. Ya…jiwaku mati saat itu. Ragaku
hidup. Kedua orang yang menjadi pedoman genetikaku memutuskan untuk pergi
meninggalkan ragaku yang masih belia. Meninggalkan onggokan jiwa yang mati.
Raga yang hidup hanya berdasarkan belas kasihan dan ketiadaan mata hati dari
kedua DNA yang mengawali sel-sel darah dalam detak jantung ini berirama. Mereka
telah pergi. Dan aku sendirian di tempat asing yang hanya berisi rasa belas kasihan.
Belas kasihan karena melihatku manusia yang masih lemah, kerdil. Belas kasihan
yang kemudian berhasil membawaku ke pergantian mendung menjadi cerah. Yang
memberiku pagi dan siang yang nyaman. Yang memberiku malam yang gempita. Hari
yang terus bergulir tanpa gerimis lagi. Mereka, yang memberiku nafas kehidupan
lebih lapang lagi. Aku terbangun dari mati suri ku. Aku bangkit dan melawan
gerimis itu.
Aku
terseok, mencoba berdiri, bangkit, kemudian berjalan pelan-pelan menuju cahaya
surya yang terang dan memberiku kehidupan sempurna.
Pada 2 ½
windu usiaku, tiba-tiba aku bertemu dengan mendung. Langit menjadi tak seterang
biasanya. Mendung mulai menggantung. Gelap mulai mereyap menjadi awan-awan
colombus di atas langit hidupku. Aku menatap cemas. Ya, akankah ada gerimis
kembali dalam hidupku? Akan adakah gerimis kah dalam waktu dekat ini? Ya…rintik
itu mulai turun. Langit bertambah gelap. Gulita menjadi semakin mencekam.
Tuhan, -Kau meminta satu pijakan hidupku kembali padamu. Aku pincang. Terseok,
rapuh, mencoba hidup. Tapi rintik hujan yang ku benci itu menetes bagaikan serangan
spontan yang tak bisa ku lawan. Tuhan…aku hanya mampu bersimpuh pada Mu.
memintaMu menjaganya dan mengampuni apa yang diperbuatnya dengan amalan-amalan
yang membuat jiwaku hidup kembali. –Kau benar, Tuhan. Ia milikmu, akan kembali
padamu.
Gerimis itu mulai mereda. Aku
kembali merangkak menyebrangi hujan, berharap masih ada siang dan terang yang
membuatku nyaman. Ya, aku menemukan lentera itu. Lentera yang awalnya hanya
tergantung di depan ragaku. Kemudian api kecilnya yang teduh dan tidak
menyilaukan itu mulai memasuki jiwaku. Aku terlena dengan cahayanya. Aku
berharap itu akan jadi pijakanku selanjutnya. Aku tak bisa terus berharap. Akan
ku ukir kembali cahaya itu menjadi sang surya yang mampu memberiku kehidupan.
Tapi sekali lagi aku terpekur. Mencoba mencari tahu sekali lagi dengan
berdialog denganMu, Tuhanku. Apakah ini cahaya yang suatu saat juga akan
tersapu mendung dan padam oleh gerimis. Karena ku sadari angin sekitar mulai meniup
tanpa kompromi. Aku mendapat petunjuk itu, tapi terlambat. Aku terlanjur
mengambil intisari cahaya itu ke dalam ruh jiwaku. Terlalu lama ia bersemayam
menghiasi rongga kosong kehidupanku.
Kemudian, tepat saat tengah hari
yang terik, angin itu tiba-tiba berhembus. Meniup cahya lentera yang sudah
hampir bertransformasi menjadi cahaya surya. Tiba-tiba terik mentari yang
membakar semangat itu berganti mendung gelap. Tiba-tiba. Tanpa ku tahu
sebelumnya. Tanpa sempat aku melindungi jiwaku dengan payung-payung yang teduh.
Aku dibasahi rintik gerimis, yang kemudian menjadi hujan. Hujan yang jatuh
setiap hari tak bisa dibendung. Airnya membanjiri rasa traumatisku. Aku benci
gerimis. Apalagi hujan yang tiba-tiba. Aku kembali mati suri. Tak bisa memaknai
setiap cahaya yang datang.
Tuhan…aku berdosa padamu. Mengapa
aku menolak takdirmu? Mengapa aku benci gerimis dan hujan? Tapi aku manusia
biasa, Tuhan. Yang Kau anugerahi ruh tak sempurna. Aku hanya pasrah dan kembali
berdialog denganMu melalui keyakinanku.
Aku mendapatkan payung yang teduh.
Hujan pun mulai mereda. Aku hanya tak menyukai gerimis. Tapi hanya tak suka.
Tidak lagi membencinya yang berlebihan. Aku hanya akan melihat gerimis sebagai
tetesan yang tak menyakitkan. Aku akan melihat mendung sebagai warna abu-abu
yang menarik disandingkan dengan beningnya air hujan.
Sekarang aku menyukai sinar bulan
yang ada di malam hari. Kalaupun gerimis ada di malam hari, aku pasti sudah
terlelap dalam mimpi-mimpi indahku. Aku hidup dari terangnya bulan yang memantulkan
sinar surya. Tidak panas, terik, menyengat, tapi cukup memberiku jembatan untuk
mengukir indahnya malam dan akan berganti menjadi kobaran semangat kembali di
pagi hari. Aku bersemayam dalam kehangatan sinar bulan itu. Meski bulan tidak
selalu sempurna, tapi ia tetap bisa memberi sinar diantara bintang-bintang di
sisinya. Aku merengkuhnya dalam dekapku.
Tuhan, Kau sangat adil. Kau buatku
belajar menjadi manusia yang mengenal berbagai ciptaMu. Aku tak menyukai
gerimis. Tapi aku membenci dunia yang tak pernah dibasahi rintiknya. Akan ada
musim kering yang panjang, kerontang, kemudian akan terjadi kelaparan yang
menyiksa. Kelaparan yang membusungkan nafsu dan amarah. Aku berharap masih ada
gerimis, meski rintiknya begitu senyap di jiwa, tapi tetesannya membuatku
mengerti. Tak ada malam yang tak berakhir. Tak ada hujan yang tak reda.
Aku. Perempuan yang tadinya membenci
gerimis, kini sanggup berdiri di tengah hujan. Karena akan ada malam yang
membuatku bermimpi dan pagi yang membuatku bergerak melaju.
Aku
perempuan yang merengkuh sinar rembulan. Tak berambisi seperti matahari, tapi
mampu memberikan pancaran yang sejati.
Aku
merengkuhnya, bahkan sampai pijakanku yang timpang diambil juga olehNya. Dan
penghubung genetika ku pun akan melihatku hidup bahagia. Apalagi yang akan ku
cari?
Plur,
Retknow,Sept2009
Untuk
sinar bulan yang selalu membimbingku dalam kegelapan.
Untuk
surya yang belum sempat bersinar yang memberiku pelajaran berharga
Untuk
kedua pijakanku yang telah bahagia di sisiNya
Untuk
penghubung genetikaku yang menjadi jembatan ku ada di dunia ini.
Cerpen 'Enough'
ENOUGH.
|
J
|
ika harus jujur, saat ini pun ada satu hal yang belum pernah
ku lupakan. Bertemu dengannya. Di pertengahan usiaku ini, aku hanya minta satu
hal itu kepada Tuhan. Ya… tapi mungkin Tuhan memisahkan kami di belahan bumi
yang berbeda. –Dia berharap kisah antara kami tak akan dimulai kembali. Atau
mungkin, Tuhan punya rencana yang lain? Entahlah. Aku hanya menatap langit sore
ini dengan kepasrahan yang sangat. Aku benar-benar pasrah apa yang di
kehendaki-Nya bukanlah harus kuketahui. Itu rahasia pencipta.
Hingga pagi yang masih dingin ini, aku
menyusuri jalanan sepanjang blok perumahan yang mulai menggeliat aroma
kehidupan. Ku langkahkan kaki ini menginjak beberapa dedaunan yang jatuh dengan
aroma hujan semalam. Aku menyelipkan tanganku pada blazer hitam yang kupakai.
Sementara sepatu boot putih diatas mata kakiku mengayun sempurna menembus
jalanan. Aku menyibak rambut panjangku yang tergerai bebas. Ada setiap saat
perasaan itu sampai usiaku mencapai sedewasa ini. Perasaan yang sebenarnya
biasa, tapi ini kualami bertahun-tahun lamanya. Perasaan menunggu sesuatu yang
tak pasti. Menunggunya. Menunggu saat itu datang. Menunggu saat sinar mata itu
kembali padaku, ku temui meskipun tak bisa lagi kumiliki seutuhnya. Aku tahu
dia mungkin sudah memiliki orang lain. Tapi semua itu tak membuatku mudah
melupakannya. Karena, bagiku kebahagiaannya adalah segalanya. Mengalahkan ego
yang membuncah dalam hatiku. Mengalahkan bahagianya ketika bosku memberiku
selamat atas prestasi kerjaku, mengalahkan saat aku dapat lulus S2 berpredikat cumlaude.
Aku. Adrenallien Neurilemma Innasty. Nama biologi yang diberikan orang tuaku
yang saat ini sudah tiada. Aku anak tunggal dari ayah bunda seorang ahli kimia
dan ahli pertanian. Entah mengapa mereka menamaiku dengan hormon Andrenallin.
Mungkin supaya aku menjadi terpacu, semangat menghadapi kehidupan ini meskipun
berat. Sangat berat. Mereka meninggalkan aku selamanya, saat usiaku sudah 18
tahun. Semester 2 kuliah. Kecelakaan maut itu merenggut nyawa mereka. Tinggal
lah aku sendirian di rumah bersama dengan kesepian yang sangat.
Kehidupan
percintaanku pun tak seindah remaja-remaja lain pada saat itu. Kisah yang
membuat cerita ini mulai memasuki babak awalnya. Saat yang mungkin membuat
semua titik konsentrasi memoriku buyar berkeping-keping. Saat yang mampu
membawaku memasuki babak baru kehidupan yang sebelumnya tak ingin kunikmati
seperti ini. Aku terhampar pada kenyataan yang bahkan aku tak pernah tahu
bagaimana menuju klimaks sampai ke ending. Aku memang tak pernah memahami
takdir dan tak pernah mau menerka-nerka atau bermimpi terlalu tinggi. Hayalanku
bertepi pada kehidupan yang nyata, bahagia, dan sukses. Itu saja. Tapi istilah
tengah itu membuatku jungkir balik mengikutinya. Kebahagiaan. Ya… sampai saat
ini pun aku masih melihatnya dalam siluet kehidupan. Belum menatapnya secara
nyata dan benar-benar ada. Tuhan… aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya
bahagia kembali setelah sekian lama ujian itu Engkau berikan. Dan aku tak pernah
lagi mau memikirkannya semenjak ini menjadi sebuah cerita yang menarik.
September 2004
Kampus Saat mata
elangnya menatapku dengan tajam. Menghujam jantungku dengan perasaan yang entah
apa namanya. Aku tak bisa lari darinya. Meskipun ini bukan keinginanku yang sebenarnya.
Ia mengunci persendian tanganku dengan genaggaman tangannya yang kokoh. Aku
melihatnya sangat dekat. Bukan perasaan nafsu antara laki-laki dan perempuan,
tapi lebih pada getaran rasa yang hebat. Rasa yang tak bisa kuungkapkan dengan
gerakan atau kata-kata. Ia tertawa membahana dan mengacak-acak rambut pendekku.
Aku mengikutinya menuju aula yang pada saat itu sebuah tempat dimana kami semua
berkumpul. Aku sudah mengenalnya lama sekali, sangat lama, hingga aku terlalu
hafal dengan apa yang terjadi berikutnya. Pasti yang keluar dari mulutnya
dengan lesung pipit itu sebuah kata-kata ejekan candaan yang selalu diakhiri
dengan lemparan remasan kertas dariku. Kemudian seisi aula menertawakan kami
dan aku tersenyum masam sambil duduk menyilangkan kaki. Menatapnya dari jauh
dengan segala keterbatasanku untuk diketahuinya adalah suatu hal yang
menegangkan sekaligus menyenangkan.
“Jendral Besar” Sebutan untuknya di BEM kampus. Lalu mereka
menobatkan aku menjadi sosok “Panglima” perangnya. Setiap rapat di kampus
selalu dia yang menentukan strategi organisasi, sementara aku yang punya hak
tertinggi menjalankannya. Semua anggota BEM menghormati itu. Tidak ada satupun
yang protes atau diam-diam kudeta. Namanya mahasiswa. Mereka percaya pemimpin
yang bijaksana. MAsalahnya pemimpin mereka tidak Cuma bijaksana, tapi sangat
menarik. Menarik dari segala hal. Mulai dari ketampanan sampai dengan
intelektualitasnya yang tinggi. Seperti apapun kebijakan jendral besarnya
mereka akan angkat senjata untuk perang. Tapi itu hanya analogi. Kenyataannya
organisasi kampus di kampus ku adalah yang paling tidak suka demo dan paling
anti organisasi berplatform tertentu. Kami berjalan wajar sewajarnya saja.
Sebagai mahasiswa yang menjadi penyambung lidah rakyat. Kami lebih banyak
berkarya lewat seni, sastra, dan olahraga. Itulah kehebatannya. Saat masa muda
bergejolak, kami meredamnya dengan kegiatan positif. Itulah kehebatan Jendral
Besar kami.
“Alien,…jangan
banyak ngelamun. Belanda makin dekat. Itu udah siap belum masalah LKTI tingkat
nasional?”
Aku terhenyak menatap si empunya suara. Benar-benar di dekat
telinga.
“Bisa…agak
jauh? Heloooo…ini telinga makin tipis rasanya.”
Dia tertawa. Seperti biasa. Keanehan yang menurut mereka
semua yang mengenal kami sesuatu yang wajar. Tidak wajar kalau kami berhenti
bertengkar. Atau menganggap kami sakit kalau tiba-tiba seharian tanpa komentar
dan kami berjalan beriringan sambil terbahak. Nha.. aku berharap kami bisa
sering sakit. Biar terlihat akrab. Tapi kami memang ditakdirkan begitu, mungkin.
“heh…muka-muka
mereka pada capek, nungguin kamu!”
Hujatnya sambil ngacak-ngacak rambut cepakku. Sebagai wanita
yang terkenal semi wanita alias tidak ber style wanita aku biasa saja. Tapi
yang belum kenal kami akan berkata ‘tuh cowok nggak ada sopan-sopannya’. Aku
mencibir sambil mengeluarkan setumpuk kertas dari tas ransel besarku.
“Nih!
Amunisi LKTI sudah siap ditembakkan!”
Seisi ruangan terbahak dan bersorak-sorai. Dia hanya
menatapku tajam dan menggeleng-geleng.
Seperti
biasa, usai rapat kami nongkrong di warkop fakultas sambil masih diskusi. Tapi
siang itu anak-anak pada capek, katanya. Tinggal aku, si Jendral gila itu, dan
Aris salah satu anggota BEM. Aris pun akhirnya mohon diri setelah dapat telepon
dari seseorang. Mungkin pacarnya.
“Enak,
ya.. si Aris diperhatiin.”
Aku terbahak mendengarnya. Siapa yang nggak kenal orang di
depanku ini. Seisi kampus juga tahu dia. Seisi kampus juga kagum padanya. Tapi
sekali lagi tidak ada yang berani mendekatinya. Sama halnya dia tidak pernah
punya hasrat mendekati siapa pun. Meskipun bejibun wanita cantik di kampus
besar kami. Meskipun entah berapa hati yang berhasil dipatahkan akibat
kecuekannya.
“Eh…
kirain homo.”
Kataku asal. Dia melotot. Aku terbahak sampai kopi di mulutku
terciprat keluar.
“Lha
mendingan homo, daripada nggak ada yang naksir.”
Aku terbahak lagi.
“artinya
kita sama.”
Dia tertawa dan tiba-tiba sudah berbisik di telingaku
“Kamu naksir saya, ya?”
Aku terhenyak dan menatapnya. Sejak kapan pikiran gila itu
sampai ke otak si jendral gila itu. Mukaku memerah seketika.
“akui
sajalah…nggak perlu sembunyi-sembunyi begitu. Kurang apa sih?”
Tanyanya sambil tersenyum ke arahku. Tiba-tiba nyaliku
menciut dan untuk pertama kalinya aku diam seribu bahasa. Tiba-tiba terdengar
tepuk tangan tunggal. Dia terbahak
“Just
kidding. Udah… ayok pulang. Sepertinya kurang sehat lu ya? Pucet gitu.”
Aku mengangguk dan menghela nafas lega. Sialan. Aku pikir dia
bisa membaca pikiranku. Seperti biasa kami menyusuri pintu keluar kampus sambil
tetap adu argument. Dan seperti biasa pula dia berjalan di sampingku sambil
memegang kepalaku dan mengacak-acak rambut cepakku. Yang berbeda, perasaanku
makin kalut. Aku berharap cepat lulus dari kampus dan tak melihatnya lagi.
Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.Dan itu salah.
Kampus memupuk perasaanku padanya. Tapi sekali lagi sampai
lulus pun aku tak berani mengakuinya. Si jendral besar gila yang punya mata
elang itu pun yang ku tahu tetap seperti gunung es. Aku hanya berani menatap kharismanya
seperti ratusan cewek di kampus ini yang kagum padanya. Meski aku punya peluang
besar untuk setiap saat berinteraksi dengannya. Itulah. Aku hanya mau meyimpan
semuanya rapat-rapat di brankas hatiku. Tak ada seorangpun yang akan kuberitahu
sekalipun itu sahabatku sendiri. Biarlah kami akan bersama tanpa tendensi
apapun. Aku berharap begitu sampai kami lulus dari kampus nanti.
Seperti yang ku duga, kami semua lulus dari kampus dalam
waktu yang hampir bersamaan. Kami meninggalkan BEM 6 bulan sebelum kami lulus.
Perpisahan yang menguras air mata jiwaku waktu itu. Saat dia memelukku untuk
terakhir kalinya di organisasi dan mengucapkan kalimat pamungkasnya
“makasih, ya. Sudah jadi panglima gue. Sudah sabar jadi
partner gue yang begini. Sorry kalo banyak salah.”
Aku tak bisa berkata-kata. Air mataku hampir turun, tapi ku
tahan sekuat tenaga. Aku ini panglima. Harus kuat. Meski pertahanku runtuh
seketika melihatnya berbalik badan. Di balik kekuatanku ada hati yang rapuh
yang saat itu pun sudah patah. Pertama kalinya aku patah hati sebelum tahu
indahnya hubungan. Dan itu terakhir kalinya aku menjauh darinya untuk
konsentrasi akhir studi di kampus dengan berbagai macam alasan klise lainnya.
Selamat tinggal jendralku. Meski tiap malam aku terbangun dan mengenali mimpiku
berisi tatapan elangnya. Masih terpahat sosoknya yang selalu hadir di
hari-hariku di kampus mengiringi masa-masa kuliahku. Lalu semuanya harus
berakhir. Aku yang mengakhirinya dengan idealisme ku. Bagiku tidak perlu lagi
melihatnya biar apa yang ada di hatiku makin tidak tumbuh subur. Pengecut. Itulah
aku pada masa itu.
Sampai perayaan wisuda selesai, aku tak berani menemuinya.
Sekali lagi aku ingin rasa itu pupus. Karena ku yakin aku bukan pilihannya.
Hingga SMS terakhirnya “Selamat, ya. Jangan lupa pernah mengenalku.” Ido jerry
P.
Aku menghapus semua akses tentangnya dan selalu akan
mengenangnya sebagai kenangan terindah. Cukup.
September 2011
Reuni BEM kampus. Aku menemukan seluruh isi ruangan. Diantara
banyak orang, aku menemukannya kembali. Dia tidak berubah. Masih seperti dulu.
Kharismanya menghipnotis semua orang di ruangan itu. Serasa dial ah yang paling
dikagumi disana. Aku berdiri di belakang alumni lain dan hanya asyik main
gadget. Entah darimana asalnya, dia sudah muncul dihadapanku. Bukan untuk adu
argument, tapi untuk menegurku
“Sengaja lupa atau bagaimana? Apa sih salahku?
Aku menatapnya dengan kekagetan luar biasa. Lalu aku menghela
nafas panjang dan menghibur diri. Dia memang suka bercanda. Mungkin tidak
berubah candaannya. Yang berubah adalah dia tidak lagi mengacak-acak rambutku
yang masih tetap cepak, meski sudah stylis. Dan aku sudah berusaha
menstandarkan penampilanku seperti para wanita pada umumnya. Meski style casual
tetap tersandang di diriku.
“Nggak, aku hanya panglima, kan. Hak prerogative kan milik
mu.”
Dia tertawa. Tidak seperti dulu yang masih kacau terbahak di
warkop. Aku tak berani menatapnya langsung. Seperti biasa kamuflaseku melewati
pundaknya menatap yang tidak kea rah mata elangnya. Sekali lagi aku tak berani.
Sungguh. Aroma parfumnya yang maskulin masih menggodaku untuk tidak menjauh
darinya. Tapi sekali lagi aku tak berani mendekatinya.
“Kuliah sudah kelar kali… jangan anggap aku nih masih apa
tuh… jendral. Kita sama disini. Sini lah gabung. Ayok… ceritain kisah hidupmu.
Plis.”
Aku mengangguk sambil mengikutinya ke arah anak-anak lain. Sebelum sampai ke
kerumunan alumni, dia berbisik
“Masih naksir ? Ayo…kita jadian disini..”
Seperti stroom ribuan watt
mendengar bisikannya yang gila itu. Entah darimana ide gila itu menyertai acara
reuni yang sakral itu. Nyaliku menciut, dan keringat dingin membanjiri bajuku.
Ah, kenapa aku ini? Seperti tak menegnalnya yang hobi bercanda. Aku pura-pura
memukul bahunya dan buru-buru kea rah anak-anak yang lain. Bergabung. Persetan
dengan Ido yang sesaat kemudian sok jadi narasumber cerita paling menarik.
Sampai akhirnya saking menariknya dia aku mulai menjauh dari kerumunan dan
minta diri duluan. Semenjak saat itu aku tak berani lagi ikut reuni. Aku tak
mau bertemu dengan sosok mata elang yang membuatku senam jantung saat bercanda.
Aku hanya takut candaannya membuatku khilaf untuk mengakui yang sebenarnya.
Betapa patah hatinya kalau sampai ditolak. Cukup.
Setelah reuni terakhir kami, aku berjanji menutup seluruh
akses tentangnya. Meski kadang rasa rindu membuncah teramat sangat. Sampai zaman
media sosial tiba. Zaman dimana kita bisa mencari kembali jarum di tumpukan
jerami. Zaman dimana kita bisa menemukan siapapun di muka bumi ini tanpa
kesulitan. Tapi digitalisasi tak membuatku bisa menemukannya kembali. Grup-grup
medsos hanya mengenangnya tanpa tahu nomor terhubung yang bisa membuatnya
muncul kembali mejadi jendral besar kami. Semuanya nihil. Dan aku mulai putus
asa bisa melihat kilatan sempurna mata elangnya lagi. Pupus.
Lamunan berkepanjangan ku berangkat kerja hanya sampai depan
kantorku. Setelah ini semua akan berjalan normal, karena kejadian yang
kupikirkan tadi sudah lewat bertahun yang lalu. Ssepertinya aku juga tidak akan
bertemu Ido lagi. Kota tempatnya tinggal alias kampus kami sekrang sudah jauh
dari tempatku bekerja. Kami punya komunitas di medsos tanpa dia. Cuma aku
kurang aktif medsos an. Sekali lagi tuntutan pekerjaan dan akan mengingatkanku
terus akan masa lalu yang menggantung itu.
Sampai siang bekerja, aku masih di suasana sewajarnya. Hingga
sore menjelang pulang kerja tiba-tiba HPku bordering. Aris. Alumni kampusku.
Anak BEM. Entah kenapa perasaanku tidak enak.
“Alien, kamu bisa berangkat ke RS deket kampus kita? Plis…nomormu
ada di anak-anak alumni. Tiket pesawat gampang, aku yang pesenin. Plis, jendral
sakit parah. Kritis. Aku serius. Leukimianya sudah stadium 3. Aku takut kamu
tidak bisa melihatnya lagi.”
Seluruh sendiku ngilu dan kaku. Ido??? Ada apa? Dia sakit.
Tuhan, aku hanya sibuk memperhatikannnya tanpa tahu dia sakit. Padahal reuni
waktu itu tidak pernah terlihat tanda-tanda itu. Aku langsung berkemas dan
cepat meluncur. Untungnya hari jumat. Besok weekend.
Sampai di rumah sakit, Aris menyambutku. Air matanya disusut
dan mengajakku duduk di ruang tunggu rumah sakit.
“Tolong jangan sedih, Alien. Dia sudah tiada.”
Dunia ku runtuh. Nafasku berhenti sejenak. Tanpa sadar air
mataku mengalir deras tanpa henti. Mulutku tercekat dan seluruh bayangannnya
tiba-tiba muncul. Setelah sadar, aku
mengguncangkan tangan Aris.
“temen-temen yang lain mana, Ris?”
Aris menghela nafas panjang.
“dia tidak pernah menunggu yang lain. Dia hanya menunggu
kamu. Dan aku saksinya.”
Aris memeluk tanganku.
“Kita ke rumah Ido, ya. Disana jenazahnya sekarang. Kamu
terlambat sedikit. Ayo.”
Entah perasaan macam apa yang menyelimuti ku saat ini. Baru
tadi pagi aku melamunkan kejadian-kejadian itu. Lalu sekarang benar-benar di
tahapan alur terakhir. Ending.
Di rumah Ido, pertama kali melihatnya tanpa suara dan tanpa
candaan khasnya meluruhkan air mataku. Satu kata yang bisa kuucapkan padanya.
“maaf.”
Terakhir setelah pemakamannya, Aris memberikan sesuatu
padaku.
“Ini titpannya. Tolong disimpan. Jangan pernah dilupakan. Dia
mencintaimu. Menunggumu dan tak pernah berani mengatakannya, karena dia tahu
umurnya tidak panjang.”
Seluruh hidupku berbalik 360 derajat. Tiba-tiba aku merasa
bahagia. Sesaat. Meski sudah terlambat. Tuhan sudah punya garis takdir yang
jelas untuk ku. –Dia memanggil orang-orang yang mencintaiku untuk abadi di sisi
Nya. Takdir ku adalah bahagia dengan kehidupan yang diberikan Nya untuk ku.
Bersyukur, karena ternyata aku pernah dicintai. Pernah.
Buku harian itu menjadi saksi bagaimana cinta selalu penuh
misteri, penuh ketulusan tanpa tendensi. Sepenggal tulisan Ido di halaman akhir
buku hariannya
Alien.
Aku mengenalnya sebagai cewek yang sangat biasa. Tidak istimewa. Tapi pada
kenyataannya dia membutakan hidupku dengan cinta. Aku baru menyadarinya saat
nyaman berada di dekatnya. Tidak ada keinginan apa pun di dirinya padaku
kecuali ketulusan. Aku mencintainya. Meski aku tak berani mengatakannya. Hanya
ingin membuatnya bahagia. Itu saja. Latar belakang kehidupannya yang
ditinggalkan orang-orang terkasihnya membuatku harus berfikir seribu kali
menyatakan perasaanku. Bagaimana aku akan menemaninya, aku sendiri dihadapkan
pada tagdir. Hidupku tidak lama. Bagaimana aku harus melihatnya menangis?
Sementara ketegarannya lah yang membuatku bisa bertahan kuat selama ini. Aku
tahu dia menyimpan semuanya di hatinya kuat-kuat, ketika aku diam-diam tahu dia
memperhatikanku dari jauh, mencoba menyimpan perasaannya, entah sampai kapan.
Rasa ini makin ingin kuungkapkan, saat melihatnya lemah. Tapi aku tak mau
membuatnya menangis lagi. Biarlah air matanya surut. Biarlah dia bahagia.
Bagiku itu saja cukup.
Maaf.
Aku sudah menyusut air mataku. Aku sudah tidak bersedih lagi.
Aku sudah bahagia. Untuk membuat mereka yang mencintaiku bahagia. Sekali lagi
aku tak kan menitikkan air mata kesedihan. Tuhan, beri aku kekuatan.
PLUR 28 Oktober 2019
Asline ora
pengin ngene critane. Tapi kok sad ending tetep apik yo…
Yo wes rapo po
lah… penting wes ending. Ternyata lumayan…
Langgan:
Catatan (Atom)